KESEHATAN

Rutin Puasa Bisa Turunkan Hipertensi

Bulan puasa Ramadan tinggal beberapa pekan lagi. Tetapi tahukah kita ternyata dengan berpuasa, bisa mencegah dari beberapa penyakit mematikan. Seperti hipertensi.

Hal tersebut diungkapkan Wakil Ketua Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PB PAPDI) Dr. Ari Fahrial Syam dalam temu media di Kantor Ditjen P2P Kemenkes, Jalan Percetakan Negara, Jakarta.

Dijelaskan Dr. Ari kalau penyakit hipertensi umumnya banyak terjadi pada umur 35-44 tahun (63 persen), umur 45-54 tahun (11,9 persen), umur 55-64 tahun (17,2 persen). Sedangkan menurut status ekonominya, proporsi hipertensi terbanyak pada tingkat menengah bawah (27,2 persen) dan menengah (25,9 persen).

Dengan berpuasa rutin seperti puasa Ramadan ini adalah momen untuk “move on”. “Banyak pasien saya yang mengatakan tidak sanggup untuk berhenti merokok, tetapi kok berpuasa sanggup. Jadi saya anjurkan setiap pasien hipertensi agar menjalani puasa. Kenapa? Dengan berpuasa pola makan dijaga, dikurangi, dan kalau bisa merokok pun stop sampai disini,” ujarnya.

Lanjut Dr. Ari, dengan berpuasa stres pun dikelola dengan baik. “Kalau kita berpuasa, ibadah pun meningkat, tensi jadi menurun,” ungkapnya.

Lantas ada yang tanya bagaimana dengan ketergantungan obat? Kata Dr. Ari, kalau sekarang ini umumnya obat untuk mencegah hipertensi sudah tahan 24 jam. “Jadi bisa dikonsumsi saat sahur,” cetusnya.

Seperti diketahui jika dari penyakit hipertensi akan berimplikasi pada kerusakan organ tubuh lainnya. Yakni kepada peningkatan tekanan darah dan lamanya kondisi tekanan darah yang tidak terdiagnosis dan tidak diobati. Organ-organ tubuh yang menjadi target antara lain otak, mata, jantung, ginjal, dan dapat juga berakibat kepada pembuluh darah arteri perifer.

Saat ini, tekanan darah tinggi atau hipertensi menjadi sebuah penyakit yang umum diderita oleh masyarakat. Satu dari setiap lima orang di Indonesia, diduga sudah mengalami tekanan darah tinggi setelah usia 35-40 tahun.

Namun, karena tidak ada gejala yang dirasakan, maka banyak orang tidak menyadari bahwa mereka memiliki potensi penyakit tersebut. Untuk itulah tekanan darah tinggi sering disebut sebagai silent killer.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM), Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan, dr Lily S Sulsulistyowati mengungkapkan, dari Data World Health Organization (WHO) tahun 2011, menunjukkan satu miliar orang di dunia menderita hipertensi, dua per tiga di antaranya berada di negara berkembang yang berpenghasilan rendah sampai sedang.

“Prevalensi hipertensi akan terus meningkat tajam dan diprediksi pada tahun 2025 sebanyak 29 persen orang dewasa di seluruh dunia terkena hipertensi,”ungkap Dr Lily, saat memaparkan materi “Cegah Hipertensi Dengan Pendekatan Keluarga” dalam memperingati Hari Hipertensi Sedunia, Rabu 17 Mei 2017.

Lanjutnya, hipertensi telah mengakibatkan kematian sekitar 8 juta orang setiap tahun, di mana 1,5 juta kematian terjadi di Asia Tenggara yang sepertiga populasinya menderita hipertensi sehingga dapat menyebabkan peningkatan beban biaya kesehatan.

“Hipertensi yang tidak mendapat penanganan yang baik, menyebabkan komplikasi seperti stroke, penyakit jantung koroner, diabetes, gagal ginjal dan kebutaan. Stroke (51 persen) dan penyakit jantung koroner (45 persen) merupakan penyebab kematian tertinggi,”ucapnya.

Sementara itu, menurut data Sample Registration System (SRS) Indonesia tahun 2014, hipertensi dengan komplikasi (53 persen) merupakan penyebab kematian nomor lima pada semua umur. Berdasarkan data tersebut, dari 25.8 persen orang yang mengalami tekanan darah tinggi hanya sepertiga yang terdiagnosis, sisanya 2/3 tidak terdiagnosis.

“Data menunjukkan hanya 0,7 persen orang yang terdiagnosis tekanan darah tinggi minum obat hipertensi. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar penderita hipertensi tidak menyadari menderita hipertensi ataupun mendapatkan pengobatan,” lanjutnya.(idr)

Most Popular

Copyright © 2017 Kilascirebon.com

To Top